Lebaran bukan sekedar hari keagamaan

Yup… nilai dan esensi dari suatu perayaan terkadang ada sedikit pergeseran nilainya.. sedikit atau banyak.

Awal mulanya Lebaran adalah perayaan hari kemenangan bagi umat Muslim setelah berpuasa 1 bulan penuh. Di ikuti dengan penyucian hati dengan saling memaafkan satu sama lain dan bersilahturami menjaga kekerabatan & kekeluargaan.

Keluarga besar aseli saya (dari bapak dan Ibu ku) adalah keluarga Kristiani, yang tidak pernah mengikuti perayaan lebaran, sekedar mengucapkan ke tetangga dan teman yang merayakan. Keluarga besarku termasuk keluarga yang tinggal di kota jauuuh dari kondisi bertetangga yang akrab bagaikan keluarga.

Namun setelah menikah, saya mendapatkan tambahan 2 keluarga besar (dari bapak mertua dan ibu mertua), yang mana lebih mempunya keberagaman yang tinggi, dari Ibu mertua mostly adalah Muslim dan dari bapak mertua kristiani namun tinggal di pedesaan nan sejuk.

Saya belajar untuk tidak sekedar mengambil hati mereka (**sebagai menantu perempuan bisa berabe siiih kalo sampai tdk bisa ambil hati mereka)… namun saya berusaha menghormati dan berusaha terlibat dalam acara2 mereka.

Nah sejak menikah inilah saya mengenal acara sungkeman (**telaaat bangeeetsss bukan ??).. jongkok2 di depan eyang2…. tau rasanya dapet angpao (**rada nyesel kenapa gak dari jaman dulu ya)… dan ternyata-ternyata di desa daerah Salatiga, mereka yang non-muslimpun ikut merayakan sama persis dengan umat muslim. Bedanya hanya mereka tidak mengikuti Sholat Id..

Kami (keluarga besar suami) mengunjungi kakek nenek, adek kakaknya nenek, kakek dari sepupunya ipar (**naaah lhoo mulai belibet kn!! xixixi) daaaaannn kami juga menerima kunjungan lhooo.

Apa aja nilai didalamnya.. yah hampir sama yaitu saling minta maaf dan menjalin silahturami. Biasanya kami rombongan besar (biasanya 4 mobil) datang ke keluarga terntentu, menemui yang paling tertua kemudian perwakilan tertua dari keluarga kami akan mengatakan begini : ” Rawuh kawulo sedoyo dateng emah Mba menika, badhe atur sembah sungkem, nek wonten kalepatan, rak ungah-ungguh, nyuwun pangapura. Nyuwun restunipun” (kedatangan kami semua ke rumah kakek, adalah untuk meminta maaf bila kami ada kesalahan, mohon pengampunannya, dan kami minta restu agar kami semua lancar).

Dalam satu hari kami bisa masuk dan melakukan hal yang sama 8-9 rumah… bayangkaaan!!.. dan tiap rumah pasti disiapkan snack dan makanan berat… gak heran khan kalo naik 2-5 kg pas lebaran itu wajar bukan ?? xixixi **cari-cari alesan

Well… tanpa mengurangi rasa hormat bagi teman dan saudara yang merayakan.. saya melihat di sebagian daerah Lebaran menjadi budaya dari masyarakat dan saya melihat keindahan beberagaman dan toleransi di dalamnya. Indahnya Indonesia jika tidak ada lagi perselisihan antar agama. Dan kita bisa bersama-sama memajukan Indonesia kita ini…

Indahnya ooo Indahnyaa…

20110912-180104.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s