Tentang perasaan Iri Hati

Tiba-tiba aku ingat kemaren ada temen yang mengatakan sesuatu ke aku. Dan aku terus keinget.. padahal mungkin itu hal sepele.

Jadi ceritanya dia itu penganten baru, dan dia suspect kalo dia mungkin hamil. Dan dia begitu hestic ttg itu. Daaaannn .. dia gak mau cerita itu ke aku…. Why ? sampai aku tahu dari orang lain

Saat aku tanya itu ke dia, dia bilang gini :” Sorry, aku gak enak ama  Sari kalo cerita-cerita beginian…”

Whaaaat ??

Oke… aku paham maksudnya. Memang aku sudah menikah lebih dari 1 thn dan belum diberi momongan…… Butttt

Mungkin ada bbrp orang yang merasa kurang suka mendengar/iri ttg bayi orang lain, apalagi dalam kondisi dimana dia sedang sangat mendambakan lahirnya si jabang bayi.

Tapi .. teman, jujur aku tidak merasakan iri hati sedikit-pun. Perasaanku adalah ikut senang.. senang banget malahan. Mungkin banyak yang kurang percaya …

Itu membuat aku bertanya-tanya juga pada diriku sendiri. Kenapa ?

Apakah aku sudah tidak menunggu kehadiran seorang bayi lagi ? AKU MASIH MENUNGGU DIA DATANG !!!

Orang yang sakit hati jika mendengar kabar gembira orang lain kemungkinan adalah  orang yang masih belum dapat menerima kondisi dirinya sendiri. ( masih hipotesis )

Aku langsung tersadar .. kalo aku sudah dapat menerima kondisi diri-ku sejak lama. Memang itu proses yang tidak mudah.

Aku teringat 4 tahun lalu, saat dokter menyatakan bahwa aku akan kesulitan dalam mengandung, dikarenakan penyakit kista endometrosis.  (Mungkin ini pernah aku cerita ini di Renungan Sang Mempelai). Itu bukan saat yang mudah, sama sekali bukan … . Orang dapat melihat banyak perubahan dalam hidupku saat itu. Aku yang tergolong tidak kurus, langsung berat badan turun dan mata sembab (menangisssssss tzz). Selain karena stress, juga karena dampak dari obat terapi penyembuhan yang cukup besar. Itu bukan saat dimana aku langsung berkata : ” ya.. sudah.. ini takdir .. aku terima semua”. ……… Aku malahan marah dan berontak kepada Tuhan, ” Tuhan apa salahku?”.

Tapi perlahan-lahan aku benar-benar bersyukur atas kejadian itu. Tuhan menggembleng aku menjadi manusia yang sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa, aku makluk ciptaan Tuhan, dan DIA yang pegang hidup orang seutuhnya. Ketika kesombongan dan keegoisanku diruntuhkan olehNYA. Aku dapat menjadi hambaNya yang terus bersujud dihadapanNya secara total.

Perlahan-lahan aku belajar menerima kehendakNya, menuruti setiap perintahNya dan tidak pernah berhenti berusahan. Karena aku yakin DIA yang menciptakan aku dengan sifat keibuan begini tidak akan menyia-nyiakan sifat ini, aku yakin DIA akan memberikan momongan di suatu hari. Saat-saat ini adalah saat yang Tuhan sedang bentuk aku dan suami menjadi pribadi yang siap untuk menerima berkat momongan yang Tuhan janjikan.

Tuhan ajar kami untuk terus setia.

Kembali ke pokok bahasan mengenai ketersinggungan. Aku akan sangat tersinggung ketika ada orang yang mengatakan : ” Sari … kok belum ‘isi-isi’ sih? … Kamu itu gak boleh menunda-nunda..mentang-mentang kamu mendahulukan karier kamu… kamu gak boleh egois!! ”

Mereka dengan entengnya menjudge aku seperti itu. Buat aku itu sangat menyakitkan!!! Boro-boro menunda.. ini udah sampe jungkir balik berusaha dan berdoa juga belum dapet… .

Oke .. I see that they’re looking at me from their perspective. When I look like workaholic, ambition and so active. And they judge me from that’s perspective.

Yah ini hidup.. setiap manusia mempunyai masanya sendiri… pelajarannya sendiri …

Mari kita jalani dengan menerima, berusaha dan bersyukur